Jumat, 22 November 2013

A Little Orange in the Big Apple (BAB 10)

10. Peringatan Nenek Agnes

Pada musim panas, Caroline telah menjual rumah di River Street. Satu pekan ketika Ali pulang, hampir semua perabotan sudah tidak ada dan telah dijual. Namun, mereka masih memiliki meja kecil di dapur,  kompor,  dan tempat tidur masing-masing. Tapi hampir semua barang telah lenyap.
Segala sesuatu tampak berbeda bagi Ali. Sedikit menakutkan jika memikirkan pergi ke suatu tempat yang begitu jauh. Tapi selama ibunya bersamanya, ia tahu semua akan baik-baik saja.
“Ali, tolong bukakan pintu. Mungkin beberapa orang datang untuk menawar barang.” teriak ibunya dari dapur. Ali membiarkan orang-orang masuk dan mereka mulai menunjuk beberapa barang-barang yang masih tersisa, satu set ensiklopedia, beberapa pinggan, patung-patung kecil dan beberapa lukisan di dinding.
Seorang wanita berjalan ke dapur, mengambil pinggan dan bertanya pada ibu Ali “Berapa nih?”
Lalu wanita itu mengulurkan tangan ke Smokey Bear yang diletakkan Ali di atas meja makan lalu bertanya kembali “Berapa nih harganya?”
 “TIDAAAAAAK!!!! jangan Smokey.” Wanita itu menatap Ali seakan-akan ia adalah anak yang pemarah.
“Smokey tidak untuk dijual.” kata ibunya, menyerahkan Smokey pada putrinya.
“Ali, bawa Smokey dan pergilah keluar untuk bermain.”

Seorang laki-laki yang di dekatnya mengerutkan kening ketika Ali berjalan keluar dari pintu belakang dengan Smokeynya.

Malam itu Nenek Agnes datang ke rumah. Ia masuk dan serta merta nyerocos mengatakan betapa gilanya Caroline pergi ke New York.
“Aku tidak mengerti bagaimana kau begitu saja akan meninggalkan California menuju kota besar yang mengerikan dan bahaya dengan anak-anakmu.” Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulutnya. Ali duduk di meja mendengarkan keduanya mengobrol selagi ibunya makan semangkuk Rice Crispies dan minum segelas susu dengan sedikit mélase Br’r Rabbit di dalamnya.
“Kau akan tinggal di apartemen yang penuh kutu busuk dan mengerikan. Apa yang terjadi jika pertunjukkan George berdesakan? Semuanya tertutup beton. Mereka tak memiliki rumput dan pohon di sana. Tidak ada tempat untuk piknik seperti Griffith Park. Orang-orang selalu saling menuding dan menggantung pakaian mereka keluar jendela. Aku juga pernah membaca bahwa ada bayi bajul yang muncul dari dalam toilet.
Aku tahu, karena pernah pergi ke Chicago saat masih muda. Kota-kota besar memang mengerikan.” Nenek Agnes menguliahi sementara ibu Ali mengepak barang.
“Dengar Ibu, berhenti mengatakan semua itu. Pertama-tama, ibu belum pernah ke New York.  Kedua, aku ingin keluargaku hidup bersama. Anak-anak butuh seorang ayah dan aku butuh suamiku. Mau itu New York, atau Timbuktu, aku tetap membawa anak-anak hidup bersama ayahnya. Mau ada kutu busuk atau tak ada rumput sekalipun ataupun jemuran yang menggantung di jendela, itu bukan masalah. George dan aku sudah berjauhan terlalu lama.”
“Kamu  akan merindukan sinar matahari California ketika mulai musim salju di New York. Aku tak pernah menyangka kau akan meninggalkanku disini sendirian.” seru Nenek Agnes.
“Sungguh Bu. Ibu takkan sendirian. Ada Dan disini juga paman dan bibi. Tentu ya, aku akan merindukan California, tetapi ada masalah yang lebih besar. Aku mencoba membenahi keluargaku sekarang. Kita semua hidup di tempat yang berbeda. George di New York, Ali di tempat Mrs Amity dan Reynolds di rumah Mrs Packard sementara aku bekerja sepanjang waktu dan pulang hanya cukup untuk makan tidur lalu bangun di pagi hari untuk kembali bekerja.”
“Memang sulit, siapa bilang itu mudah.” sela Nenek Agnes lagi. “Kenapa bukan George saja yang kembali bekerja di Lockheed? Dia kan punya karir yang baik di sana.”
 “Ibu tahu kan dia selalu bermimpi bernyanyi di sebuah pertunjukkan. Itu adalah cita-citanya……”
“Ya, hari dimana Ali dilahirkan.” kata Nenek Agnes tajam. Ibu Ali memandang anaknya yang mendengarkan mereka berdebat.
“Ibu tidak perlu mengatakan itu!” gerutu Caroline .

Ibu menatap Ali dan bilang sudah waktunya menggosok gigi dan tidur. Ali berlal dengan terus mendengarkan, meskipun ia tahu menguping saat orang berbicara di ruangan lain itu tidak baik.
“Caroline, aku ingin yang terbaik bagimu.  Kau tahulah, aku akan merindukanmu. Siapa yang akan menemaniku nonton di bioskop sekarang? Kau akan begitu jauh.”
Caroline mengingatkan ibunya untuk menulis surat dan menggunakan telepon untuk tetap berhubungan.
“Perutku rasanya mulas.” cetus Nenek Agnes tiba-tiba sambil menyambar tasnya dan menuju pintu
“Lihat! Kau akan tahu macam apa kota New York itu. Kau akan lihat!” Ia meninggalkan rumah dan membanting pintu di belakangnya.
Ali muncul dari lorong dan berjalan  ke tempat ibunya sedang duduk di lantai untuk mengemasi barang.
“Nenekmu hanya tak ingin kita pergi.” kata ibunya saat ia menatap Ali dan bangkit dari lantai.
“Kupikir berkemas malam ini sudah cukup.” Bersamaan Ali dan ibunya menuju ruang tamu, Ali melihat globe.
“Lihatlah ibu, ini kota New York.” katanya sambil menunjuk ke tempat di globe yang ditunjukkan ibunya beberapa waktu yang lalu.
“Apakah disana benar-benar banyak kutu busuk dan jemuran yang bergelantungan di jendela juga bayi buaya? tanya Ali.
“Oh, tentu disana ada, seperti disini juga ada kan Sayang?”
Dan tentang jemuran yang bergantungan di jendela, apakah itu benar-benar penting?
Kita akan bersama-sama dengan ayahmu. Itu yang penting untuk diingat.
Dengar Ali. Reynolds sedang bermalam di rumah temannya, Russell. Mari kita menonton televisi sambil makan popcorn, menghabiskan waktu berdua. Hanya ibu dan kamu, Oke?”
“Oke!” sahut Ali antusias.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar