Sabtu, 29 Agustus 2015

Sejenak Mengenal Kopi di Omah Kopi Gunung Kelir

Hai teman, adakah yang suka ngopi? Hei saya juga lho. Walaupun hanya sesekali minuman ini bisa bikin mood balik lagi. Yah, untungnya juga nggak pernah mengalami masalah apapun dalam mengonsumsinya. Ada sih teman yang sehabis minum kopi perutnya langsung sakit, konon memang dia ada penyakit maag, sehingga  kopi sebisa mungkin dihindari. Saya memang nggak begitu ngerti tentang kopi dan efek-efeknya sih. Namun, setelah mampir ke Omah kopi jadi ngerti dikit dengan si hitam pahit ini, hehehe.


Hari Minggu, biasa, jatahku dolan. Walau dari rumah pasti bingung deh, mau kulineran di mana. Yang tempatnya bisa buat ngobrol, nggak cuma numpang makan saja. Ya sudah, habis dzuhur meluncur saja ke Omah Kopi Gunung Kelir di daerah Tapen, Kesongo Tuntang yang dikelola oleh kelompok tani Rahayu IV Desa Sirap, Jambu. Yang di sana ada juga teman kuliahku ngebarista, ciehh. Sekalian cari tempat nongkrong sih, heheh. Sambil meracik kopi pesanananku. Ia menjelaskan macam-macam kopi. Sejenak aku menengok tulisan dari kapur yang tertera di display dengan berbagai macam menu dengan harganya. Keren dan unik juga idenya.

Serbuk kopi di dalam gelas sudah terhidang di hadapanku, yaitu jenis Arabica Aceh Gayo, katanya paling enak dan mungkin cocok dengan lidahku, dengan menggunakan teko kecil, dia menyeduh kopi pelan-pelan di Frencpress, yaitu gelas yang bisa membuat kopi dan ampasnya terpisah dengan cara ditekan dari tutupnya. Katanya sih, serbuk kopi itu sebenarnya nggak boleh diminum karena bisa menyebabkan penyakit. Wah, aku baru tahu deh.


Frenchpress



Arabica Aceh Gayo

Wah, ada juga gelas macam begini to, hehe. Frenchpress ini lumayan juga harganya, kalau yang murah dari produk Kapal Api sekitar 100 ribu rupiah. Dari Frenchpress ini kopi baru dituang di gelas deh. Saat secangkir kopi sudah siap, temanku bilang agar menyicipya tanpa gula. Kata dia sih kopi ini nggak terlalu pahit. Yaksss, apaan,  baru nyeruput dari sendok sudah bikin melet-melet begini. No…no aku tetap nggak doyan.  Humm tapiiii…pas ditambah gula kopinya jadi enak. Yah….kalau diibaratkan sih kayak memandang wajahku, item tapi manis. Hahaha.

Rasa Arabica Aceh Gayo ini pahit dan ada asamnya, menututku seperti minum kopi sachet. Tentu yang ini lebih enak dong. Kopi Aceh Gayo memang terkenal enak dan mahal karena ditanam di dataran paling tinggi,  rasa pahitnya tidak akan tercecap setelah habis diminum. Nggak kayak minum kopi sasetan, di lidah asemnya masih terasa. Nah, di Omah Kopi Gunung Kelir secangkir Aceh Gayo hanya 12 ribu rupiah, katanya ini sudah murah lho.
Tak lengkap rasanya jika tak mencoba kopi Kelir, produk asli yang dihasilkan dari Gunung Kelir di Jambu Ambarawa. Kopi kelir ini jenisnya robusta. Berbeda dari Aceh Gayo kopi satu ini benar-benar pahit tanpa ada rasa asam atau lainnya. Saat masih berbentuk biji-bijian, membedakan biji kopi robusta dan Arabica sangatlah mudah, biasanya biji kopi Arabica butirannya lebih kecil.
Kelar sruput-sruput. Temanku menjelaskan berbagai peralatan ala-ala barista. Dengan berbagai gaya menyeduh kopi, jiah. *kali aja ada yg sambil jungkir balik.  Nah, yang ini Vietnam drip fungsinya sama sih, memisahkan kopi dari ampasnya. Bentuknya seperti cangkir kecil yang diletakkan di atas gelas, terdiri dari empat bagian yang berupa tutup, gelas dan 2 saringan.


Vietnam drip


Nah, beda lagi kalau menyeduh kopi menggunakan teko leher angsa. Tak perlu ribet, tinggal tuang air panas, ampas kopi tetap di bawah, langsung bisa memisahkan diri, hehe. Disebut teko leher angsa karena bentuk mulut teko yang melengkung panjang seperti leher angsa. Harga satu teko ini 675ribu

Teko leher angsa

Oh ya, masih ada lagi mesin-mesin keren. Pernah menikmati secangkir espresso. Kopi siap saji yang tinggal pencet dari mesinnya. Cuuur, cairan hitam berbau sedap ini meluncur dan siap dinikmati. Fungsi mesin ini adalah mengekstrasi serbuk kopi yang halus dengan menyemburkan air panas dengan tekanan tinggi. Pada permukaan kopi biasanya akan muncul crema, yaitu buih halus berwarna coklat muda seperti krim. 


Mesin espresso

Nah, yang ini Rok presso, mesin espresso tanpa listrik atau manual serta harganya lebih terjangkau.

Bagi yang tidak suka kopi hitam murni Ada juga lho kopi latte. Kopi late ini ya, simpelnya kopi yang dicampur susu. Pertama, kupikir dengan susu kental manis pun jadi. Ternyata tidak sesederhana itu . Susu yang digunakan ternyata susu cair UHT. Susu dihangatkan setelah itu menggunakan alat milk frother untuk menghasilkan buih halus.  


Macam-macam juga ya alatnya, mahal-mahal lagi. Yah, rasanya tak perlu heran mengapa acara ngopi seperti life style.
Meminum kopi Arabica dua gelas sehari mampu mencegah kanker, lebih baik lagi jika tanpa gula. Nah, kalau ada yang perutnya sakit sehabis minum itu karena perutnya kosong. Minum kopi sebaiknya sesudah terisi. Makan dulu ya… Kalau belum makan aku juga suka ndredeg *yaiyalah. Setelah minum kopi jangan lupa untuk berkumur, karena ada kandungan zat yang bisa merusak gigi.


Seneng banget deh nongkrong di Omah Kopi ini. Namun, karena masih baru, sajian makanannya masih terbatas, hanya berupa camilan ringa, seperti pisang goreng, kentang goreng dan telo goreng . Di sana belum menyediakan belum menyediakan makanan berat.
Semoga ke depannya tempat ngopi ini makin komplit sajiannya.

Selain bisa nongki seru, dapat ilmu juga deh, apalagi habis dikasih tahu kalau di Playstore ada aplikasi OpenSnap, di mana kita bisa pilih-pilih tempat makan yang dekat dengan lokasi kita. Setelah menyalakan GPS, langsung deh muncul review tempat makan yang nggak jauh dari tempat kita berada kayak review Bihun Tomyam ini. Hmmm, fitur Map View di OpenSnap benar-benar memudahkan penggunanya.

Mau tahu di mana tempatnya tinggal klik ikon lokasinya. Muncul deh letaknya beserta harganya sekalian. Jadi sebelum makan kita sudah siapin budget yang sesuai. Nggak bikin was-was deh, Takut kemahalan.


Dengan aplikasi ini aku jadi bisa planning buat kulineran di mana. Nggak bingung mesti tanya-tanya teman dulu. Kalau aku pastinya mencari makanan kesukaanku di Semarang. Seperti Nasi goreng ayam di Jl. Sriwijaya ini, Duh, ngiler deh.

14 komentar:

  1. Aku suka kopi, tapi kopi tubruk alias black coffe. Sehari kadang bisa minum lebih dari 3 kali....hahaha

    BalasHapus
  2. mauu kesinii...kapan yuuuk....di pinggi jalan ndak dit? eh share ni postingan ke web IDFB siapa tahu terpilih dit

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pinggir jalan persis mbak. Bukanya blm tentu krn yg jaga juga nyambi buka stand kalo ada event2. Buka mulai jam 12 siang

      Hapus
  3. Balasan
    1. Coba aja. Tapi bukanya masih nggak tentu

      Hapus
  4. Menarik nihhh, pas bojoku juga suka kopi. Kapan2 ah mampir...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Tapi bukanya masih nggak tentu

      Hapus
    2. Iya mbak. Tapi bukanya masih nggak tentu

      Hapus
  5. Waaahhh kopiiii. Suamiku banget nih suka ngopi

    BalasHapus
  6. Dari luar keliatan biasa, tapi dalemnya luar biasa. Kereeen. ^^

    BalasHapus
  7. Trimakasih mbak Aditya meila, udah share info omahkopi kiata
    Sekarang omahkopi gunung kelir sudah resmi buka jam 13.00-23.00, kalau pas rame bisa sampai jam 24.00
    Kita juga melayani pembelian kopi gunung kelir, bisa juga main ke kebun kopi+nyunrise/nyunset untuk info lebih lanjut bisa email ke di salafudinahmad8@gmail.com
    Follow juga ig kita @omahkopigunungkelir

    BalasHapus
  8. Itu ada yang dibuat dari mesin pembuat kopi kan gan ya? Pasti rasanya enak :D

    BalasHapus