Rabu, 03 Juli 2019

Sakitnya Melahirkan Normal

Sudah 3 bulan sejak anakku lahir baru bisa menulis ini. Tapi baru dipost pas sudah 6 bulan. Mungkin karena emosiku sudah stabil, bayiku pun tidurnya mulai teratur. Yang pentingi keinginan menulis itu tetap ada. Sebenarnya selama hamil pun aku menulis. Walaupun sebulan sekali tapi belum aku bagikan. Melahirkan anakku yang pertama sangat panjang dramanya. Tak kusangka melahirkan "mak prucut' yang kuidam-idamkan hanyalah mitos. 
Jadi, malam itu sudah masuk tanggal 4 Januari, sekitar jam 00.30 aku terbangun dan merasakan bajuku basah. Perasaan panik mulai mendera. Apakah ini air ketuban yang udah rembes? Benar juga pas aku berdiri, tiba-tiba mengalir air yang cukup banyak dari jalan lahir. 

Nah, di situ kubangunkan suami untuk siap-siap ke rumah sakit. Sebelum berangkat kusempatkan naik ke lantai 2 yang notabene adalah kamar lamaku untuk ganti baju yang lebih layak. Di sini sebenernya sudah kesalahan juga, pakai sempet-sempetnya naik turun tangga. Padahal tuh ketuban udah bercecer di lantai. Setiap berjalan menetes-netes bahkan mengucur tanpa bisa dibendung. Rasanya seperti ketika haid yang tahu-tahu cairan keluar begitu saja. Kepanikanku semakin mendera. Dengan membonceng motor, aku dan suami menuju rumah sakit yang kurang lebih 10 menit dari rumah. Kami hanya membawa tas kecil yang berisi identitas terutama BPJS dan surat-surat yangdiperlukan. Sementara tas berisi perlengkapan ibu dan anak yang udah kupersiapkan disusulkan bapak mertuaku. 

Jalanan yang begitu lengang membuat kami cepat sampai di IGD. Di sana ada beberapa petugas jaga. Sembari suami mengurus pendaftaran. Aku diantar menggunakan kursi roda menuju ke sebuah ruangan. Bidan mengecek pembukaan. Ternyata baru bukaan 1. Di situ aku langsung dipasang infus. Tindakan seterusnya ditentukan oleh dokter yang kupilih untuk menangani persalinanku. Melalui telepon dokter memerintahkan bidan untuk memasukkan pil lewat jalan lahir untuk memancing kontraksi. Aku belum merasakan sakit apa-apa. Namun tentu perasaanku sudah deg-degan tak karuan. Proses memasukkan pil itu sebenarnya tidak sakit. Namun pikiranku sudah tidak rileks. Kira-kira apa lagi ya yang bakal terjadi padaku? Apalagi setiap bergerak, cairan ketuban selalu keluar. Hingga daster yang kukenakan basah kuyup. Bidan menyuruh suamiku untuk membeli popok dewasa di indomaret tak jauh dari rumah sakit. Saat memakai karena saking paniknya sampai-sampai pakai popok pun terbalik balik. Oh ya, popok yang disarankan itu adalah popok perekat. Sumpah ya, popok perekat dewasa itu repot banget dipakainya dan tentu sangat tidak nyaman. 

Tak lama setelah itu, aku di bawa ke ruang perawatan untuk menunggu bukaan. Sekitar 2 jam di sana, tidak sakit yang berarti. Sampai kutanya bidan yang menanganiku kalau tandanya bayi mau lahir itu gimana mbak? "Nanti mbak kalau sudah merasakan kenceng-kenceng, nah itu udah mau lahir. Sampai di ruang perawatan, suara rengek bayi-bayi baru lahir sesekali terdengar. Maklum saja ruang perawatanku kelas 3, jadi ya berbagi dengan orang banyak. Tak kunjung merasakan kontraksi, bidan mengantarku ke ruang persalinan. Di ruangan itu ada beberapa ranjang untuk bersalin. Setiap ranjang hanya bersekat tirai yang kalau kuperhatikan ada bekas darah kering yang menempel. Ranjangnya pun sempit dan sangat tidak nyaman untuk merebahkan diri. Jauh dari bayanganku. Buyar semua teori melahirkan secara gentle birth.

Mana lagi aku sudah tidak boleh banyak bergerak. Dikhawatirkan ketuban semakin banyak keluar. Selain mati gaya, pikiran-pikiran negatif mudah masuk ke otak. Tanda-tanda melahirkan belum juga ada. Tindakan yang diajukan dokter adalah memasang balon pada jalan lahir. Haduuuh, apa lagi itu? Aku sempat browsing tentang pemasangan balon pada jalan lahir. Sempat ngeri juga tapi apa boleh buat. Aku bisa apa selain manut. Di situ aku minta pada bidan untuk menunggu sebentar setelah sarapan. Maksudku, sejujurnya sangat takut dan ingin mengulur waktu saja. Pada akhirnya aku pasrah juga. Berkali-kali bidan memasukkan alat itu hingga berhasil. Rasanya? Jangan ditanya. Ibuku saja sampai ngeri melihatnya. 
kateter foley/induksi balon

Nah, di situlah baru aku mulai merasakan kontraksi. Setiap kurang lebih 15 menit sekali sakit itu datang. Setiap gelombang cinta itu datang. Kuambil nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan lewat mulut. Kuremas tangan suamiku kuat-kuat. Jeda 15 menit berikutnya bisa bernafas lega. Tak lama kontraksi itu datang lagi. Sampai pada akhirnya mentok di bukaan 4. Masyaallah. Bidan pun menghubungi dokter untuk tindakan berikutnya. Pada akhirnya aku harus induksi dengan infus dan melepas balon. Yang paling kutakutkan akhirnya terjadi juga. Kata beberapa temanku dipacu dengan infus itu paling sakit. What! begitu saja sudah sakit, bagaimana yang ini? Pada tahap pelepasan balon ini, ibuku bilang ia tak tega melihatnya. Aku sudah mulai bodo amat mau diapakan. 

Bidan menyuntikkan pacu pada infusku. Tak lama kontraksi itu datang. Semakin lama semakin intens tanpa jeda. Sungguh, luar biasa dahsyatnya. Setiap bernafas istighfar terus. Mencoba untuk tidak teriak-teriak dan menjerit-jerit. Sampai aku tak tahu lagi cara menetralisir rasa sakit. kehabisan cara menahannya kuremas-remas tiang infus. Semua tentu tak membuat rasa sakit itu hilang. Hingga tak kuasa sampai kujambak-jambak rambutku sendiri. Masyaallah. 
Di ruang persalinan suara merintih-rintih saling bergantian. Yang satu mengejan, sebelahnya jalan lahirnya dijahit. Belum lagi suara bidan yang menyentak-nyentak begitu terdengar menyebalkan. Pikiranku kacau. Aku mulai pesimis. Pasien-pasien yang datang belakangan dariku sudah melahirkan. Suara tangis bayi selang-seling bergantian. Ya Allah, aku kapan bisa mengejan. Rasanya, pembukaan demi pembukaan terasa begitu lama. Sampai bukaan 9 rasa ingin mengejan selalu datang. Tapi bidan mewanti-wanti agar tidak mengejan sebelum bukaan 10. Beberapa kali aku VT (vaginal touch). Ya aku tahu bahwa nggak boleh mengejan. Namun, sensasi ngeden itu rasanya tak tertahankan. Tak tahan, aku megeluarkan suara menggerung-gerung. Bidan pun menghampiriku dan mengecek lagi bukaan. Bukaan 9 belum maju-maju. Ya Allah, sampai kapan? 

Sore pukul 16.00 WIB bukaan 10. Namun status kepala bayi belum dekat jalan lahir. Hingga akhirnya dokter memutuskan untuk operasi. Ya! Disitu aku tak kuasa menahan tangis. Pecah seketika seoerti orang gila. Semua usaha untuk melahirkan normal buyar sudah. Dari jalan pagi setiap hari, yoga hamil. Mendengarkan  segala tetek bengek tentang hypnoborthing. Lalu semua harus berujung operasi. Belum lagi sakit yang akan kutanggung setelahnya. Katanya sembuhnya lama dan lain-lainnya. Namun apa daya, semua demi keselamatan bersama. Aku sendiri sudah pesimis dengan keadaanku. Mengejan pun rasanya seperti sia-sia. Kuterima takdirku dengan ikhlas. Hingga lahirlah  dengan selamat bayi mungil cantik ini pada tanggal 04 Januari 2019 pukul 18.55 WIB. 


Selamat datang Ghaida Raihanah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar