Selasa, 19 Juni 2018

Periksa Kandungan di RS Puri Asih Salatiga

Sejak telat haid sekitar semingguan aku nggak sabar buat ke dokter. Ya pengin tahu aja kayak gimana sih kondisi dalam rahim ketika hamil. Ini entah aku yang nggak sabaran atau karena pengalaman pertama hamil , jadi aku pengin menjaga sebaik-baiknya. Keputusan yang kami ambil adalah memeriksakan kandungan di RS Puri Asih Salatiga. Alasannya adalah beberapa temanku periksa dan lahiran juga di sana. Untuk dr Spognya sih ya ngikutin yang praktek itu siapa. Yaudah sih cus. Kalau kata temanku sih  dr. Zaky itu asyik, beliau suka menerangkan secara detail. Dan aku pengin sih dapat dokter yang komunikatif. Setelah pengalaman promil dapat dokter yang kayak memburu waktu dan antrian gitu. Jadi udah deh nggak ada komunikasi atau pengetahuan yang didapat. Padahal pertanyaan di kepala itu banyak banget.
Hari Senin pagi itu aku mendatangi Puri Asih Salatiga bersama suamiku. Sempat bingung dengan alur pendaftaran dan riuhnya para pasien yang berjubel, akhirnya kami dapat antrian setelah tanya-tanya. Tiba antrian kami receptionist menulis data pasien. Dan karena kita nggak pakai BPJS, so, harus bayar dulu sebesar 130 untuk tindakan dokter. Pada saat itu dokter yang bertugas bukan dokter yang kuinginkan melainkan dokter pengganti. Ya sudahlah nggak apa-apa kepalang tanggung udah di sini juga.
Setelah registrasi rampung kami mulai mengantri di ruang periksa kandungan. Di sana aku menyerahkan map yang berisi dataku pada perawat yang berjaga di depan. Jujur sih mejanya cukup berantakan dengan map-map pasien lain yang belum tertata. Aku nggak terlalu memerhatikan dapat giliran nomer berapa untuk periksa. Tak menunggu lama, aku dipanggil untuk cek tensi darah dan berat badan. Pada saat itu dapat perawat yang sepertinya agak nggak sabaran. “Ibu udah tes ppt?” tanya dia. Apa mbak tespek?” tanyaku. Dia senyum ngeledek. “Itu lho bu, tes pipis.” Lha, meneketehe tes ppt itu tes urin. Ah ya sudahlah, males juga bahas yang nggak enak-enak. Karena bakal ada yang nggak enak berikutnya.
Dalam sesi menunggu itu aku, aku memerhatikan sekeliling. Ada yang lebih lama menunggu dariku tapi belum dipanggil-panggil. Sedangkan, ada yang baru datang langsung masuk ruang periksa. Aduh, langsung negative thiking deh. Kok ruwet yah? Tapi ini masih disimpen saja sih di hati. Akhirnya tiba juga giliran periksa. Perasaan sih masih biasa saja, cuma bertanya-tanya kira-kira udah kelihatan belum ya?
Buka pintu terpampang seorang dokter yang kelihatan masih muda. Roman-romannya mirip dr strange. Aduh, sebenarnya aku agak males sih untuk cerita bagian periksa ini. Karena dokternya sama sekali nggak asik dan irit ngomong kalau nggak ditanya. Seingatku Cuma ditanya HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir) habis itu berbaring buat usg perut. Diusek-usek dengan alat ternyata rahimku belum kelihatan apa-apa, wajar sih baru telat 5 hari. Bahkan kantungnya saja belum ada. “Saya usg lewat bawah ya” kata dokter. Aduh, males banget deh sebenarnya. Tapi kenapa aku tak sanggup menolak. Padahal ya harusnya nih, dokter memberikan opsi apa mau diperiksa trans v apa datang beberapa minggu lagi gitu kek. Ini nggak tau kenapa aku jadi sebel banget. Ya nggak sama dokternya juga sih. Sama diriku sendiri juga, kenapa juga gua diem ajah. Ya udah diperiksa deh transvaginal lewat jalan lahir. Jadi kayak ada alat semacam tongkat gitu dimasukin. Sakit sih enggak. Tapi rasanya nggak nyaman banget deh, mana agak lama lagi itu ditusuk-tusuk, wkwkwkwk. *sateekalee. Nyatanya belum juga kelihatan apa-apa. So, aku hanya disarankan untuk balik lagi satu bulan. Sama diresepin folavit dan obat penguat kandungan. Ini aku juga agak nyesel, kenapa harus gitu dikasih obat penguat padahal juga belum kelihatan apa-apa. mana tuh obat mahal lagi. Pada akhirnya nggak kuminum juga. Kenapa nggak kuminum? Nah diperiksa kehamilan kedua nanti akan kuceritakan. Jadi yang kuminum cuma folavit karena aku tahu ini suplemen penting juga untuk mencegah kecacatan karena mengandung asam folalt yang sangat dibutuhkan janin.

Selasa, 12 Juni 2018

Trimester I, Feel Hopeless, Cuma Pengin Makan Enak

Pikiranku lagi benar-benar kacau. Nggak tahu, apakah ini merupakan bagian mood swing ibu hamil. Tapi aku kerap merasakan perasaan seperti ini. Sebelum hamil juga. Yang jelas, hi kalut dan nggak tahu mesti ngapain. Padahal biasanya aku bisa menghilangkannya dengan mencoba-coba resep baru. Tapi, kali ini aku lagi males, semales-malesnya. Setiap bangun tidur badan rasanya nggak enak. Rasanya nggak bugar kayak biasanya. Jadiii, aku seringnya malah tiduran terus. Sungguh aku pun merasa merugi.

Terhitung, sejak HPHT tanggal 30 Maret sebenarnya aku nggak terlalu merasakan perubahan layaknya orang hamil. Tapi yang kerasa banget adalah PD jadi lebih kenceng, besar dan sakit. Kadang-kadang mual sih, cuma kayak kembung aja. Terus kalau habis bangun tidur bawaannya lemes banget. Tapi yang kayak gini harus dipaksain buat bangun dan beraktifitas, kalau nggak gitu malah badan rasanya nggak karu-karuan.

Jadi selama tahu hamil ini aktifitasku cuma ngerjain kerjaan rumah tangga aja. Pengin sih open order. Tapi kadang aku nggak yakin dengan kondisi fisikku yang berubah-ubah. Yang tahu-tahu lemes gitu aja. Lagian, kayaknya jalan sudah tidak segesit biasanya. Aduh, aku jadi tambah galau nih. Yups, ini yang kurasakan di minggu ke 5-6 kehamilanku.

Menuju minggu ke 7 badanku mulai enakan, padahal sempat mual ringan. Ringan banget sampai aku pikir ini sih paling mual kemasukan angin, hehehe. Soalnya aku merasa seterusnya biasa aja. Sehingga aku memutuskan untuk puasa karena nggak ada punya keluhan apapun. Aku masih doyan makan macem-macem. Jadi kupikir, nggak ada alasan untuk nggak puasa dong. Dengan puasa, malah badanku tambah enakan. Nggak ada mual sama sekali. Kadang sempat terbersit, ini beneran nggak sih aku hamil. Dari tanda yang masih kuyakini adalah, sampai detik ini PD masih sakit, tambah kencang dan padet. Di minggu ini aku mulai mau masak lagi, bikin es blewah, nggoreng kerupuk, nyayur dan bikin bakwan buat buka. Yups, aku kembali menyentuh dapur. Sayangnya, masih males banget untuk bikin aneka kue. Minggu-minggu ini sebenarnya aku sedang membangkitkan motivasi untukku sendiri. Sometimes, aku memang ngerasa hopeless. Yups, karena aku nggak berpenghasilan. Entah karena aku males atau takut terlalu capek. Karena setiap pekerjaan pasti butuh gerak cepat apalagi itu menyangkut tanggung jawab terhadap orang lain. Di sisi lain, aku merasa kayak nggak apa-apa. Tapi mengingat bahwa aku sedang hamil dan puasa pula. Aku urung untuk open order. Jadi, aku sebenarnya sedang krisis percaya diri dan kebanggaan bahkan untuk ngobrol-ngobrol receh tentang punya rumah dan bercanda masa depan dengan suamiku. 

Di Minggu ke 8 aku periksa ke dokter untuk yang kedua kalinya, semua baik-baik saja (akan kuceritakan di post selanjutnya) aku nggak punya keluhan sama sekali, laiknya cerita kebanyakan orang yang begitu menderita di trimester 1. Tentu aku sangat bersyukur sekali bahwa aku bisa makan apa saja yang kusuka. Yup mumpung suami lagi manjain dan nggak protes aku beli makanan yang enak-enak. Mungkin dia juga harus bersyukur istrinya hamil ngebo, dan nggak mesti ngurusin muntahan dan tetek bengek keluh kesah hamil trimester 1.   

Minggu ke 9 dan 10 sampai detik ini masih sama saja rasanya seperti minggu ke 8. Dan masih puasa sampai H-2. Cuma aku tuh suka banyak pikiran, misal ada masalah aku suka kepikiran banget sampai kadang tahu-tahu nangis sendiri sampai suamiku aja sering bingung. Oh ya, aku masih bisa makan apa saja *dengan catatan hanya yang kusuka. Jadi setiap buka puasa aku sering jajan di luar. Aku sama sekali nggak selera makan masakanku sendiri pun lauk-lauk yang dijual selama ramadhan. Iya sih, lidahku emang manja banget. Jadi makanan kesukaanku itu adalah ikan nila goreng, sambal udang, plencing kangkung ala SS itu favorit banget, terus nasi padang dengan lauk ayam goreng dada, sambel ijo dan sayur-sayuran ala padang. Hmm, habis itu apa yah, nasi goreng juga enak. Paling irit ya nasi kucing deh. itu pun satu tempat doang yang cocok di lidah. Suamiku sih manut-manut aja. Yup karena aku tekankan lagi sama dia bahwa dia harus bersyukur punya istri hamilnya enak banget, cuma ribet soal makan, lu turutin selera makan gua. Gitu aja gue udah bahagia, hehe. Maaf ya.

Oh ya masalah mood swing ini. Bener-bener harus butuh dukungan dan pengertian. Karena perasaan wanita yang sedang mengandung itu cenderung labil. Jadi, misal disinggung sedikit aja kayak udah disakitin sedemikian rupa. Iya, kedengeran lebai sih. Tapi memang itulah yang terjadi. Bahkan ada orang yang ketika ngelihat orang yang bikin sebel jadi benciiinya kebangetan. Tapi aku nggak, cuma emang sensitif banget. Udah dasarnya aku mudah sakit hati anaknya. Ya begitulah, karena ini pengaruh hormonal yang dikaitkan dengan hormon kortisol. Jadi, beruntunglah kita yang punya suami sabar, bisa menghibur dan maklum dengan kondisi emosional ini. Kayak aku misal jadi sering bete padahal ini nggak bagus juga buat janin. Sebenarnya dengan cerita begini agak meringankan pikiran. Jadi nulis ini jadi media buat katarsisku dan berusaha meringankan pikiranku dan mengkhawatirkan banyak hal. Buat para bumil semoga bisa bahagia terus ya sampai lahiran nanti. Semangat!