Selasa, 08 Desember 2015

Tentang JNE, POS Indonesia dan TIKI

Semenjak jualan online, aku mulai akrab dengan kirim mengirim barang dan eskspedisi yang kugunakan. Satu ekpedisi yang patut kuacungi jempol adalah JNE. Yang kusuka darinya adalah aplikasi cek tarif dan trackingnya akurat dan gampang. Jadi ketika aku totalan dengan costumer selalu pas, nggak nombok ataupun nguntung ongkir. Walaupun pernah sih ada kejadian di mana barang yang kukirim melalui JNE hilang 3 biji setelah dapat laporan dari buyer. Ada sedikit keraguan juga, apakah ada oknum JNE yang membongkar dan mengambil isi paket atau buyer memang curang. Entahlah walau buyer sudah bersumpah dengan nama tuhan tapi ketika aku ingin lihat bungkus paketnya, katanya sudah dibuang. Setidaknya jika memang ada yang curang bisa ketahuan deh siapanya. Ya sudah lah, daripada berdebat akhirnya kuganti barang yang hilang itu. Sejujurnya aku belum tahu win-win solution kalau ada kejadian seperti ini. Apa memang seller harus bertanggung jawab jika ada kehilangan? yang bukan kesalahannya dan tak tahu siapa yang eror. 

Ingin meminta konfirmasi, keesokannya kutanyakan langsung ke JNE tempatku mengirim barang. Adminnya mengatakan jika pun JNE harus membongkar barang, maka itu akan dilakukan disaksikan pengirim. Mungkin maksudnya untuk barang-barang yang mencurigakan kali ya. Lagian tidak ada bukti foto bungkus sebelum dan sesampai barang dikirim. Mana mau lah dia bertanggung jawab. Makanya deh, wajib bagi kita para seller online untuk memfoto paket yang mau dikirim. Walau begitu kepercayaanku menggunakan jasa JNE belum luntur kok. 

Nah, kalau pengalamanku dengan Pos Indonesia berbeda lagi. Sebenarnya aku cukup puas dengan layanannya. Hanya saja beberapa kali aku harus nombok ongkir. Gara-gara cek tarif di aplikasi pos Indonesia nggak sesuai dengan pas ngirimnya. Mana lagi kalau barang di bawah 2 kg nggak bisa pengiriman yang biasa, harus kilat khusus. Loh...loh harusnya kan makin ringan barang makin murah, lagian volume paket juga cuma sekotak kecil, nggak ada 100 gr. Menurutku mbingungun penjelasan dari pegawainya. Masih butuh kepastian, aku coba twit ke pos indonesia. Dan jawabannya bahwa untuk cek yang akurat ke web Pos Indonesia. Yang naudzubillah ngeselinnya kaya nunggu angkot penuh baru jalan. Iya, udah masukin prosedur pengecekan dari alamat tujuan, berat dan volume barang. Ujung-ujungnya not found. ZBL kan kalau begini. Ya sudah, kalau ada buyer nanya ongkir langsung deh aku via JNE saja. Kebanyakan ya oke-oke saja. Timbang nombok sampai hampir 5ribu setiap ngirim. Lha terus seller untung apa kalau beginih. Tolong Pos Indonesia update lah aplikasinya. Kalau memang yang benar di web nya. Kenapa juga ada aplikasi pos di Playstore. 

Sambil tarik nafas, cerita tentangTIKI ah. Cuma sekali doang aku ngirim pakai ini. Gara-garanya pas ngirim ada tambahan biaya admin seribu rupiah. Udah buru-buru memutuskan nggak pakai ekpedisi ini. Padahal kayaknya satu perusahaan sama JNE yah. Tapi entahlah.

Oke deh, tulisan ini berdasar pengalamanku saja kok. Nggak dibayar, nggak juga baik-baikin salah satu ekpedisi dan menjelekkan yang lain. Karena aku hanyalah seller yang mencari rejeki dari recehan. Jadi inginnya semua ya lancar, pas dan nyaman, barang selamat sampai tujuan. Seller untung, buyer puas. 

4 komentar:

  1. Hahahah. aku beberapa kali juga nombok POS mbak, tapi karena klo ke Pos aku bisa nitip tetangga yg punya agen jadi yawes lah, hihi

    pernah sih, sesuai sama yg di web pos, tapi barangnya kutimbang dulu :D

    BalasHapus
  2. untuk daerah terpencil aku milih pos, jne untuk barang yang mahal, dan wahana untuk yang mau irit walau lama hihihi

    BalasHapus
  3. kalau pos perhitungannya berdasarkan berat paket sih ya, jadi kalau mau tau ongkir yg pas memang harus ditimbang dulu :)
    Sama mba, saya juga kadang suka nombok atau malah customernya jadi kelebihan bayar. Sejauh ini sih puas dengan pelayanan jne dan pos :)

    BalasHapus