Rabu, 14 Januari 2015

Jadi Guru, Sebaiknya Nggak melakukan Hal-Hal berikut

Jadi guru itu mesti ekstra suabaaar......
Hiks....

Pembukaan yang ngenes yah....
Okeh miss (yang ngaku) guru mau cerita lagi. Dulu banget, pas saya masih umur 18 tahun, tepat lulus SMA setahun, saya sempat ditawari jadi guru les di suatu bimbel. Yang inti saya mau sampaikan adalah....saya pernah dibuat nangis sama murid cowok, padahal dia kecil *apa hubungannya? habis dia nakal banget, sementara saya nggak tahu harus bagaimana. Cuma air mata yang bisa mendeskripsi. 

Kalau sekarang? 
hemm jangan tanya, nggak nangis sih. Cuma masih bingung kalau murid ribut itu sebenarnya diapain? 
Saya pun nggak mau ngegalakin siswa. Sumpah itu NGGAK ada efeknya. Bisa-bisa saya dicap Miss Galak atau Mak Lampir. Males kan?

Dari hasil baca buku, ini lah yang nggak boleh dilakukan guru :

1.       Teriak di kelas pas siswa ribut
Waktu masih sekolah, pernah ada guru yang nggak galak banget pas kita sekelas lagi ricuh, terus teriak “Diaaaaaaaaamm” sampai pohon-pohon sekitar kelas goyang. Emang sih kita diam, terus nggak lama heboh lagi. Efeknya cuma kayak sambel. Padahal emosi gurunya sudah sampai ubun-ubun. Tuh kan, nggak ada manfaatnya.
Jadi, yang disarankan buku “Rahasia Menjadi Guru Idola” adalah. Diam sejenak hingga murid tenang. Setelah itu baru lanjutkan pelajaran. Bisa juga dengan kata-kata “Halooo…masih ada sinyal di sana?? atau anda boleh mencoba kata-kata dosen saya kalau ada yang lagi asyik ngobrol, misal oknum ngobrol namanya Ina dan Adit. “Ina, kayaknya topik kita seru ya, sampai serius mendiskusikannya dengan Adit.” (Pasti yang dimaksud jadi tersipu-sipu).
2.       Membentak dan Merendahkan Siswa
Membentak siswa dengan kata-kata kasar itu bisa membuatnya tersinggung dan malu. Karena saya pernah jadi murid dan diperlakukan demikian maka saya tak pernah membentak siswa, apalagi dengan kata kasar dan cap jelek, misal  “Oow lha jeliteng!” Pasti kata-kata itu akan terekam sepanjang hayat. Pernah, waktu SD seorang guru saya mengolok teman dengan kalimat begini “Wes ireng, goblok, urip sisan” (sudah hitam, bodoh, hidup lagi!). Memang sih sekelas jadi tertawa-tawa. Tapi, bagi murid yang dimaksud itu pasti menyakitkan. Imbasnya dia jadi tidak sopan dan memangil guru tersebut tanpa ada kata “Pak” atau “Bu”. Eh, Maliki wis teko po durung?” (Eh, Maliki sudah datang atau belum?)
3.       Membanding-bandingkan dan menggoda murid
Waktu SMP saya sering banget menemukan guru cowok yang suka menggoda murid yang cantik. Saya nggak tahu sih perasaan murid itu, bisa jadi dia risih atau malah bangga karena merasa diperhatikan guru. Tapi bagi kita yang nggak cantik diperhatikan. Apa itu takkan menimbulkan kesan buruk. “Ih, guru ganjen, centil. Males deh, paling yang diperhatiin dia terus.” Ini jelas bukan kata-kata iri, tapi reaksi yang timbul ketika menghadapi  guru yang begitu. Jadi, sebaiknya guru tetap bersikap wajar.
                Pernah jadi murid yang merasa dianaktirikan? Pasti sedih kan? Misal kita kurang bisa menangkap pelajaran dengan cepat terus dibanding-bandingkan sama teman yang pintar. “Itu tuh, kamu tiru Si A nilainya bagus terus, soal begini aja nggak bisa.” Terus? Apa itu akan membuat murid terdakwa jadi termotivasi? Bisa jadi! Tapi motivasinya karena sakit hati.

Oke, segitu dulu ilmu yang bisa saya bagi. Semua ini bersumber dari buku “Rahasia Menjadi Guru Idola” yang ditulis oleh Erwin Widiasworo.

Don't be sepaneng, enjoy like me :P

Kesempatan Datang Seiring Kita Jalan-jalan

Dulu sekali saya nggak pernah bercita-cita jadi guru. Bahkan, guru menjadi pilihan terakhir setelah profesi-profesi lain yang saya inginkan. Hemm, sebenarnya bukan profesi sih. Tapi kegiatan yang dirasa bisa menghasilkan uang. Yakni, menulis. Namun, pada kenyataannya menulis itu nggak mudah. Apalagi dengan bermodal semangat dan suka tanpa pengetahuan yang mumpuni. Kerasanya menulis jadi garing dan nggak berbobot. Apalagi setelah tulisan yang saya buat ditolakin terus. Merasa desperate? Tentu saja. Gimana pun saya pengin sesuatu yang kita usahakan bisa jadi duit buat jajan, beli sepatu, tas, bedak dan jalan-jalan. Sementara saya sebel kalau diburu buat melamar pekerjaan. Sekalipun saya punya modal ijazah S1 Pendidikan  Bahasa Inggris. Iya, tauk….saya bisa jadi guru. Cuma, kalau ngebayangin sebulan direward dengan 100-200 atau paling banter 500 ribu. Nggak usah tanya itu sakitnya di mana? Di kepala tauk. Iya karena itu tadi, saya butuh jalan-jalan, beli tetek sapi bengek. Mau ngedalih pengabdian? Udah nggak usah ngeles hati sama otak itu ngga bisa bohong *pokoknya saya nggak mau ngomongin ini takut timbul dalil-dalil. Hihihi. Udah, yang jelas saya kerja ya butuh duit.
                Saya juga nggak mau maksain buat nenteng map lamaran ke sekolah. Bodo amat! Entar kalau waktunya kerja ya tiba-tiba aja tuh kesempatan nongol, yang penting bisa nebeng makan dari ortu supaya tetap hidup. Terus? Ya saya jalanin aja apa yang kusuka, nulis. Sampai suatu hari memang kesempatan itu datang juga. Pas di kantor pos mau ngirim novel anak ke salah satu penerbit, saya nemuin loker jadi guru Bahasa Inggris di suatu kursusan yang deket-deket aja. Oke, besoknya saya buat lamaran, terus lewat kantor pos ngirimnya. Soalnya masih jiper mau ke kantornya langsung. Yah, pokoknya dari situ, saya jadi berprofesi sebagai guru, meski bukan yang ngajar di sekolah, tetep dipanggil guru kan?!
                Dan di kantor itulah saya mulai belajar banyak hal….dan narsis dengan murid-murid :D

 Yah, pokoknya sih, banyakin jalan-jalan ajah. Seperti saya jalan-jalan ke kantor pos tadi. Terus bisa selfie pake tongsis utangan seperti foto di atas :D